Kemampuan Penyesuaian Diri
sebagai Dasar Kesehatan Mental
Apakah
yang dimaksud dengan sehat mental? Apa pula yang dimaksud dengan tidak sehat
mental? Dalam keseharian kita, pengertian istilah ‘sehat mental’ dan ‘tidak
sehat mental’ sering kabur. Sehat mental sering dipahami dalam arti waras atau
tidak gila. Sehat mental juga diarikan sebagai tidak pernah dirawat di rumah
sakit jiwa. Sedangkan tidak sehat mental atau sakit mental diartikan sebagai
gila, tidak waras dan tidak nyambung dengan lingkungan sekitar.
Meskipun
pengertian-pengertian itu mengandung sebagian arti yang berkesesuaian istilah ‘sehat mental’ dan ‘tidak sehat mental’ dalam
pengertian ilmiah tetapi tidak memadai untuk menjelaskan apa itu ‘sehat mental’
dan ‘tidak sehat mental’. Pengertian-pengertian itu dapat mengaburkan gejala
yang dirujuk oleh kedua istilah tersebut. Agar dapat memahami kondisi
sebenarnya dari gejala yang dirujuk kedua istilah itu diperlukan batasan yang
lebih memadai.
Psikologi sebagai
bidang ilmu yang salah satu kekhususannya adalah meneliti persoalan kesehatan
mental memberikan pengertian yang lebih memadai bagi kita. Pengertian itu dapat
membantu kita untuk memperjelas pemahaman tentang apa itu ‘sehat mental’ dan
‘tidak sehat mental’.
Pengertian sehat mental dan
Kesehatan Mental
Untuk memahami pengertian sehat mental,
perlu dipahami pengertian ‘sehat’ yang terkandung dalam istilah itu. Apa yang
dimaksud dengan sehat? Orientasi klasik yang umumnya digunakan dalam kedokteran
termasuk psikiatri mengartikan sehat sebagai kondisi tanpa keluhan, baik fisik
maupun mental. Orang yang sehat adalah orang yang tidak mempunyai
keluhan tentang keadaan fisik dan mentalnya. Sehat fisik artinya tidak ada
keluhan fisik. Sedang sehat mental artinya tidak ada keluhan mental.
Dalam ranah psikologi, pengertian sehat
seperti ini banyak menimbulkan masalah ketika kita berurusan dengan orang-orang
yang mengalami gangguan jiwa yang gejalanya adalah kehilangan kontak dengan
realitas. Orang-orang seperti itu tidak merasa ada keluhan dengan dirinya meski
hilang kesadaran dan tak mampu mengurus dirinya secara layak. Apakah
orang-orang ini dapat dikatakan sehat karena tidak mengeluh dan merasa dirinya
baik-baik saja? Lalu, jika ada orang mengeluh bahwa pekerjaannya sekarang belum
memberi kepuasan kepada dirinya, apakah orang ini tidak sehat mental? Begitu
juga jika orang yang memiliki cita-cita yang tinggi dan mengeluh belum dapat
mencapainya, apakah orang ini pun tidak sehat mental?
Pengertian sehat mental dari orientasi
klasik kurang memadai untuk digunakan dalam konteks psikologi. Mengatasi
kekurangan itu dikembangkan pengertian baru dari kata ‘sehat’. Sehat atau
tidaknya seseorang secara mental belakangan ini lebih ditentukan oleh kemampuan
penyesuaian diri terhadap lingkungan. Orang yang memiliki kemampuan
menyesuaikan diri dengan lingkungannya dapat digolongkan sehat mental.
Sebaliknya orang yang tidak dapat menyesuaikan diri digolongkan sebagai tidak
sehat mental.
Dengan menggunakan orientasi penyesuaian
diri, pengertian sehat mental tidak dapat dilepaskan dari konteks lingkungan
tempat individu hidup. Oleh karena kaitannya dengan standar norma lingkungan
terutama norma sosial dan budaya, kita tidak dapat menentukan sehat atau
tidaknya mental seseorang dari kondisi kejiwaannya semata. Ukuran sehat mental
didasarkan juga pada hubungan antara individu dengan lingkungannya. Seseorang
yang dalam masyarakat tertentu digolongkan tidak sehat atau sakit mental bisa
jadi dianggap sangat sehat mental dalam masyarakat lain. Artinya batasan sehat
atau sakit mental bukan sesuatu yang absolut.
Berkaitan dengan relativitas batasan
sehat mental, ada gejala lain yang juga perlu dipertimbangkan. Kita sering
melihat seseorang yang menampilkan perilaku yang diterima oleh lingkungan pada
satu waktu dan menampilkan perilaku yang bertentangan dengan norma lingkungan
di waktu lain. Misalnya ia melakukan agresi yang berakibat kerugian fisik pada
orang lain pada saat suasana hatinya tidak enak tetapi sangat dermawan pada
saat suasana hatinya sedang enak. Dapat dikatakan bahwa orang itu sehat mental
pada waktu tertentu dan tidak sehat mental pada waktu lain. Lalu secara
keseluruhan bagaimana kita menilainya? Sehatkah mentalnya? Atau sakit? Orang
itu tidak dapat dinilai sebagai sehat mental dan tidak sehat mental sekaligus.
Dengan contoh di atas dapat kita pahami
bahwa tidak ada garis yang tegas dan universal yang membedakan orang sehat
mental dari orang sakit mental. Oleh karenanya kita tidak dapat begitu saja
memberikan cap ‘sehat mental’ atau ‘tidak sehat mental’ pada seseorang. Sehat
atau sakit mental bukan dua hal yang secara tegas terpisah. Sehat atau tidak
sehat mental berada dalam satu garis dengan derajat yang berbeda. Artinya kita
hanya dapat menentukan derajat sehat atau tidaknya seseorang. Dengan kata lain
kita hanya bicara soal ‘kesehatan mental’ jika kita berangkat dari pandangan
bahwa pada umumnya manusia adalah makhluk sehat mental, atau ‘ketidak-sehatan
mental’ jika kita memandang pada umumnya manusia adalah makhluk tidak sehat
mental.
Pandangan yang digunakan di sini adalah
pendekatan yang menegaskan manusia pada umumnya adalah makhluk sehat mental
jadi istilah yang digunakan untuk menilai sehat atau tidaknya mental seseorang
adalah ‘kesehatan mental’. Dengan pandangan ini penentuan sehat atau sakit
mental dilihat sebagai derajat kesehatan mental. Selain itu, berdasarkan
orientasi penyesuaian diri, kesehatan mental perlu dipahami sebagai kondisi
kepribadian seseorang secara keseluruhan. Penentuan derajat kesehatan mental
seseorang bukan hanya berdasarkan jiwanya tetapi juga berkaitan dengan proses
pertumbuhan dan perkembangan seseorang dalam lingkungannya. Kesehatan mental
seseorang sangat erat kaitannya dengan tuntutan-tuntutan masyarakat tempat ia
hidup, masalah-masalah hidup yang dialami, peran sosial dan pencapaian-pencapaian
sosialnya.
Berdasarkan orientasi penyesuaian diri,
kesehatan mental memiliki pengertian kemampuan seseorang untuk dapat
menyesuaikan diri sesuai tuntutan kenyataan di sekitarnya. Tuntutan kenyataan
yang dimaksud di sini lebih banyak merujuk pada tuntutan yang berasal dari
masyarakat yang secara konkret mewujud dalam tuntutan orang-orang yang ada di
sekitarnya. M. Jahoda, seorang pelopor gerakan kesehatan mental, memberi
definisi kesehatan mental yang rinci. Dalam definisinya, “kesehatan mental
adalah kondisi seseorang yang berkaitan dengan penyesuaian diri yang aktif
dalam menghadapi dan mengatasi masalah dengan mempertahankan stabilitas diri,
juga ketika berhadapan dengan kondisi baru, serta memiliki penilaian nyata baik
tentang kehidupan maupun keadaan diri sendiri.”
Definisi dari Jahoda mengandung
istilah-istilah yang pengertiannya perlu dipahami secara jelas yaitu
penyesuaian diri yang aktif, stabilitas diri, penilaian nyata tentang kehidupan
dan keadaan diri sendiri.
Penyesuaiaan diri berhubungan dengan
cara-cara yang dipilih individu untuk mengolah rangsangan, ajakan dan dorongan
yang datang dari dalam maupun luar diri.
Penyesuaian diri yang dilakukan oleh pribadi yang sehat mental adalah penyesuaian
diri yang aktif dalam pengertian bahwa individu berperan aktif dalam pemilihan
cara-cara pengolahan rangsang itu. Individu tidak seperti binatang atau
tumbuhan hanya reaktif terhadap lingkungan. Dengan kata lain individu memiliki
otonomi dalam menanggapi dan menyesuaikan diri dengan lingkungan.
Penyesuaian diri yang dilakukan orang
sehat mental tidak menyebabkan bergantinya kepribadian. Perubahan-perubahan
dalam diri individu tidak mengubah secara drastis dirinya. Pada orang sehat
mental stabilitas diri dipertahankan. Dalam menyesuaian diri dengan lingkungan,
individu dapat menerima apa yang ia anggap baik dan menolak apa yang ia anggap
buruk berdasarkan pegangan normatif yang ia miliki. Di sini terlihat adanya
otonomi diri dalam penyesuaian diri yang memperlihatkan stabilitas diri individu.
Otonomi ini menandakan bahwa ada pusat diri pada manusia yang mengorganisasi
keseluruhan dirinya. Meski penyesuaian diri perlu terus dilakukan namun kondisi
dalam diri tetap stabil dan memiliki kesatuan. Keadaan diri yang stabil dan
berkesatuan itu selalu dipertahankan oleh individu yang sehat.
Penyesuaian diri pada orang yang sehat
selalu didasarkan pada penilaian terhadap kehidupan dan keadaan diri sendiri.
Pilihan cara-cara menanggapi rangsangan, ajakan dan dorongan selalu didasarkan
pada pertimbangkan kondisi kehidupan yang sedang dijalaninya yang
diperbandingan dengan kondisi diri sendiri. Orang yang sehat akan melihat
masalah nyata apa yang dihadapinya dan bagaimana kondisi dirinya berkaitan
dengan masalah itu sebelum menentukan tindakan yang akan diambil. Di sini
terlihat bahwa orang yang sehat memiliki kemampuan memahami realitas internal
dan eksternal dirinya. Ia tidak bereaksi secara mekanik atau
kompulsif-repetitif tetapi berespons secara realistis dan berorientasi pada
masalah.
Dengan batasan-batasan kesehatan mental
seperti yang diuraikan tadi, kita dapat pula mengenali tanda-tanda gangguan
kesehatan mental. Individu yang tidak mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan
menunjukkan adanya masalah kesehatan mental. Dalam penelitian-penelitian psikologi
klinis ditemukan bahwa gangguan stres berat, depresi, frustasi yang menyebabkan
agresi, histeria, bahkan psikopati dan psikosis kebanyakan disebabkan oleh
ketidakmampuan penderitanya dalam menghadapi kenyataan yang terjadi padanya.
Begitu pula dengan individu-individu yang hanya bertindak reaktif terhadap
rangsangan, dorongan dan ajakan. Mereka tidak mampu mengontrol dan menguasai
diri sendiri sehingga tidak mampu menampilkan perilaku yang tepat dalam setiap
kondisi yang dihadapinya. Individu yang tidak mampu mempertahankan stabilitas
diri juga mengindikasikan adanya gangguan mental dalam hal otonomi dan kesatuan
diri. Disintegrasi diri merupakan ciri utama pada gangguan-gangguan psikosis.
Ketiadaan atau kekurangan kemampuan menilai lingkungan dan diri sendiri secara
realistis sehingga tidak mampu mengambil keputusan yang tepat juga menjadi
indikasi dari adanya gangguan atau hambatan dalam perkembangan mental. Gangguan
yang berkaitan dengan kemampuan menilai lingkungan dan diri secara realistis
ini dapat mengarahkan orang pada gangguan neurosis dan psikosis.
Peningkatan Kemampuan
Penyesuaian Diri
Kita sudah memahami bahwa penyesuaian
diri merupakan dasar bagi penentuan derajat kesehatan mental seseorang. Orang
yang dapat menyesuaikan diri secara aktif dan realistis sambil tetap
mempertahankan stabilitas diri mengindikasikan adanya kesehatan mental yang
tinggi pada dirinya. Sebaliknya mereka yang tidak mampu menyesuaikan diri
secara aktif, tidak realistik dan tidak stabil dirinya menunjukkan rendahnya kesehatan
mental pada dirinya. Dengan kata lain kemampuan penyesuaian diri merupakan
variabel utama dalam kesehatan mental. Dengan demikian dapat dipahami bahwa
peningkatan derajat kesehatan mental setara dengan peningkatan kemampuan
penyesuaian diri yang aktif, realistik disertai dengan stabilitas diri.
Kemampuan penyesuaian diri idealnya
dilatih dan dibina sejak kecil. Namun peningkatan kemampuan ini bukan tidak
dapat dilakukan ketika seseorang sudah dewasa. Dari waktu ke waktu idealnya
manusia perlu terus mengembangkan kemapuan penyesuaian dirinya yang aktif,
realistik dan dinamis sambil tetap menjaga stabilitas diri. Dalam banyak
literatur psikologi kesehatan, pengembangan diri dan kemampuan penyesuaian diri
merupakan salah satu indikasi dari kepribadian yang sehat. Kita dapat melihat
di antaranya dalam uraian-uraian Gordon W. Allport, Carl Rogers, Abraham Maslow
dan Viktor Frankl. Pemikiran mereka menegaskan bahwa pribadi yang sehat selalu
ditandai dengan keinginan untuk tumbuh dan berkembang, berorientasi ke masa depan sambil tetap realistis dan mampu
melakukan inovasi bagi diri serta lingkungannya. Artinya perbaikan kemampuan
penyesuaian diri tidak hanya perlu dilakukan pada mereka yang mengalami
gangguan mental tetapi juga pada siapa saja.
Psikologi kesehatan atau sering juga
disebut psikologi pertumbuhan menitikberatkan kajian-kajiannya pada upaya
menemukan cara-cara mengembangkan kepribadian yang ditandai dengan aktualisasi
potensi-potensi manusia untuk menjadi lebih baik dari waktu ke waktu. Cabang psikologi
yang tergolong baru ini bertujuan untuk membuka dan melepaskan potensi manusia
yang sangat hebat agar dapat diaktualisasi, juga untuk memupuk, memenuhi dan
mewujudkan bakan-bakat manusia secara lebih optimal. Psikologi kesehatan juga
berusaha membantu manusia untuk menemukan arti yang lebih dalam dari diri dan
kehidupan manusia. Kajian-kajian dalam psikologi kesehatan tidak difokuskan
kepada orang-orang yang mengalami gangguan mental dan bagaimana menyembuhkan
mereka. Kajian-kajian itu lebih berfokus pada individu-individu normal dan
bagimana mereka dapat mencapai kondisi kepribadian yang sehat dalam pengertian
mampu mengaktualisasi potensi-potensi manusiawinya.
Psikologi kesehatan menekankan bahwa
orang yang sehat secara psikologis adalah orang yang mengontrol dirinya secara
sadar. Orang-orang yang sehat secara sadar mengatur tingkah-laku mereka dan
bertanggung jawab terhadap diri dan nasibnya. Orang yang sehat secara psikologi
juga mengetahui siapa dan apa diri mereka. Ia menyadari kekuatan dan kelemahannya,
kebaikan dan keburukannya serta umumnya sabar dan bersikap menerima terhadap
hal-hal tertentu. Mereka selalu menampilkan diri mereka apa adanya dan tidak
berkeinginan untuk menjadi apa yang bukan diri mereka meski tetap dapat
menjalankan peran sosial untuk memenuhi tuntutan masyarakat. Meski tetap dapat
menyesuaikan diri secara aktif dengan lingkungannya mereka memiliki stabilitas
diri yang tinggi dan tidak mengacau-balaukan peranan sosial dengan diri mereka
yang sebenarnya.
Pandangan psikologi kesehatan tentang
pribadi yang sehat secara psikologis sejalan dengan pandangan Jahoda tentang
kesehatan mental. Kemampuan penyesuaian diri secara aktif disertai penilaian
yang realistik, stabilitas diri serta kesadaran akan diri dan kondisi yang
melingkupinya merupakan faktor-faktor dari kesehatan mental. Kembali kepada
bagaimana meningkatkan kemampuan penyesuaian diri dalam pengertian kesehatan
mental, kita dapat menggunakan temuan-temuan psikologi kesehatan untuk membantu
menjelaskan bagaimana kemampuan penyesuaian diri dapat ditingkatkan.
Kontrol diri secara sadar merupakan
syarat pertama dari kemampuan penyesuaian diri secara aktif. Kemampuan
mengontrol diri secara sadar memungkinkan orang untuk dapat secara aktif
menentukan tindakan apa yang perlu dilakukannya agar dapat menyesuaikan diri
dengan lingkungan. Tanpa kesadaran ini tidak mungkin orang dapat menyesuaikan
diri secar aktif. Orang hanya dapat bereaksi secara pasif jika tidak memiliki
kontrol diri yang sadar.
Pemahaman tentang diri sendiri secara memadai
menjadi syarat dari kemampuan menyesuaikan diri secara aktif. Dengan memahami
diri sendiri, seseorang dapat melihat sejauh mana kesenjangan antara diri dan
lingkungannya sehingga dapat menentukan perilaku apa yang perlu ditampilkan.
Selain itu, pemahaman tentang apa yang mereka mau dan tujuan yang hendak
dicapai juga menjadi faktor penting dari penyesuaian diri secara aktif.
Tindakan-tindakan apa yang perlu dilakukan menjadi lebih jelas jika tujuan dari
tindakan-tindakan itu diketahui.
Dengan pemahaman tentang diri dan kondisi
yang melingkupinya menjadikan seseorang tahu apa dan siapa dirinya. Orang yang
sehat mental menerima diri mereka dalam pengertian mereka berani menampilkan
diri apa adanya. Hal ini bukan berarti mereka sudah merasa puas dan berhenti
melakukan perbaikan. Mereka menerima dirinya termasuk apa yang tidak baik dan
mau serta berusaha untuk melakukan perbaikan. Orang yang sehat mental bersikap
realistis dalam arti tahu batasan-batasan dirinya termasuk jika ada yang dapat
diperbaiki dari diri mereka. Mental yang sehat selalu menggerakan orang untuk
melakukan perbaikan diri secara terus-menerus sambil tetap berlapang dada
terhadap kondisi dirinya.
Dengan pertimbangan ciri-ciri orang yang
sehat mental dan kaitannya dengan kemampuan penyesuaian diri secara aktif maka
dapat dirumuskan cara-cara umum untuk meningkatkan kemampuan penyesuaian diri
yang menjadi ciri orang sehat mental. Peningkatan kemampuan penyesuaian diri
harus dimulai dari kesadaran akan kemampuan mengontrol diri secara sadar. Perlu
ditegaskan sekali lagi, manusia memiliki kemampuan kontrol ini. Peningkatan
kesadaran akan kemampuan kontrol diri dpaat dimulai dengan menekankan bahwa
setiap orang bertanggung jawab atas dirinya dan mampu menentukan
pilihan-pilihan sendiri. Dengan kata lain, perbaikan terhadap diri sendiri
mampu dilakukan oleh seiap orang.
Cara berikutnya untuk meningkatkan
kemampuan penyesuaian diri yang baik adalah dengan belajar mengenali diri
sendiri dan kondisi-kondisi yang melingkupinya. Pemahaman tentang diri beserta
kondisi-kondisinya memberikan pemahaman tentang hal-hal apa yang perlu
diperbaiki dari diri sendiri dan lingkungan. Orang tidak mungkin dapat
melakukan perbaikan jika ia tidak tahu apa yang perlu diperbaiki. Penyesuaian
diri secara aktif mengandung pengertian melakukan perbaikan terhadap hal-hal
yang kuran baik. Dengan memahami apa yang perlu dperbaiki atau disesuaikan,
seseorang dapat melakukan perbaikan.
Tidak selalu sebuah upaya perbaikan
membuahkan hasil yang diharapkan. Orang yang sehat mental memahami hal ini. Ia
tidak mudah frustasi dalam mengupayakan perbaikan. Sebaliknya ia akan sabar
tanpa berhenti berusaha. Peningkatan kemampuan penyesuaian diri juga harus
didasari oleh pemahaman ini. Melatih kesabaran dan sikap realistis dapat
meningkatkan kemampuan penyesuaian diri.
Pada prakteknya upaya-upaya peningkatan
kemampuan penyesuaian diri itu tidak selalu mudah dilakukan. Perlu dirancang
teknik-teknik khusus yang efektif untuk membantu peningkatan penyesuaian diri
yang mengarah pada peningkatan kesehatan mental. Apa yang diungkapkan dalam
tulisan ini hanyalah gambaran umum tentang kesehatan mental dan pengembangannya
menurut orientasi penyesuaian diri. Gambaran yang lebih rinci memerlukan uraian
yang lebih panjang dan memerlukan sangat banyak literalur tentang kesehatan
mental. Tulisan ini hanya sebuah pengantar untuk masuk ke dalam pemahaman yang
lebih dalam tentang kesehatan mental berdasarkan orientasi penyesuaian diri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar