Rabu, 20 Juni 2012

Bimbingan Konseling


Bimbingan Dan Konsling

Pengertian Bimbingan Konseling merupakan pelayanan bantuan untuk peserta didik secara perorangan maupun kelompok agar mandiridan berkembang secara optimal dalam bimbingan pribadi, sosial, belajar dan bimbingankarir melalui berbagai layanan dan kegiatan pendukung berdasarkan norma-norma yang berlaku. Bimbingan dan Konseling merupakan pelayanan bantuan artinya kegiatan iniharus mampu memberikan hal-hal positif kepada peserta didik, membantu meringankan beban, menemukan alternatif pemecahan masalah, mendorong semangat dan memberikan penguatan serta ketenangan kepada peserta didik secara tepat. Pelayanan tersebut dapatdilakukan secara individu maupun kelompok.

Kaitan Bimbingan dan Konseling (BK) dengan Kurikulum berbasis kompetensisangatlah erat, Undang - Undang sistem Pendidikan Nasional (USPN) no:2 tahun 1989 pasal 1 ayat 1 sebagai acuan dari implementasi KBK menyatakan bahwa Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan latihan bagi peran peserta didik dimasa yang akan datang. Hubungan yang terlihat dalam pengertian ini adalah kegiatan bimbingan merupakan bagian dari KB  yang pelayanannya menyentuh ranah afektif. Sementara kegiatan pengajaran yang bersifat formal lebih mengarah pada ranah kognitif untuk memperoleh pengetahuan.

Disinilah peran Bimbingan dan Konseling, yaitu membantu peserta didik untuk mengembangkan potensi, tanggung jawab, hubungan interpersonal, motivasi, komitmen, daya juang serta pengembangan karir. Profesi Bimbingan Konseling merupakan keahlian pelayanan yang bersifat psikopedagogis dalam bingkai budaya artinya bahwa pelayanan yang diberikanharus mengacu pada upaya pendidikan dengan memperhatikan aspek psikologis dan unsur  budaya yang menyertainya. Tentu saja aspek budaya disesuaikan dengan kondisi daerahsekolah tersebut. Kebiasaan yang terjadi pada sekolah-sekolah di daerah tidak bisa dibuat pola yang sama dengan sekolah yang ada di kota. Misalnya dari sisi kebiasaan, sopansantun, kemampuan dsb. Profesi ini juga harus berlatarbelakang pendidikan yang sesuaidengan bidang psikologis.Tugas Konselor sangat banyak karena selain administrasi juga mencakup beberapalayanan antara lain :

1.Layanan orientasi

Layanan ini mencakup pengenalan lingkungan sekolah yang baru baik dari sisikurikulum, kegiatan pendukung, maupun struktur organisasi sekolah. Langkah awal yang bisa dilakukan dengan memasukkannya pada program kegiatan MOS dan diperjelas padasaat bimbingan klasikal di kelas.

2.Layanan informasi

Layanan mencakup berbagai informasi untuk menambah wawasan dalammerencanakan masa depan.

3.Layanan penempatan

Layanan ini membantu siswa menyalurkan bakat, minat atau kelanjutan studi yangdipilih melalui hasil belajar serta hasil psikotes sebagai bahan pertimbangan.

4.Layanan pembelajaran

Layanan ini membantu siswa mengembangkan diri kerkaitan dengan sikap dankebiasaan belajar, materi belajar yang cocok dengan kemampuannya serta berbagai aspek tujuan dan kegiatan belajar lainnya.

5.Layanan konseling individu/kelompok 

Melalui layanan ini, siswa mendapat layanan langsung tatap muka untuk membantumengatasi masalah baik yang disadari maupun tidak disadari oleh siswa secara individuatau kelompok. Layanan konseling dilakukan berdasarkan data administrasi bisa berupaangket, informasi dari berbagai pihak, observasi baik di dalam maupun di luar kelas, hasil belajar , penggalian masalah melalui materi bimbingan klasikal dll. Layanan konseling

akan memberi nuansa berbeda jika ruang konseling terpisah dengan ruang administrasisehingga privasi siswa maupun orang tua terjaga. Hal itu perlu mengingat masalah yang perlu diselesaikan bisa bersifat sangat pribadi.

6.Layanan bimbingan kelompok.

Layanan bimbingan kelompok bisa diberikan secara klasikal di kelas, layanan inimemberi banyak kesempatan untuk menyampaikan berbagai informasi yang terkait dengan bimbingan pribadi, sosial, belajar , karir dan layanan-layanan pada point di atas sekaligusmenggali permasalahan siswa sebagai salah satu bentuk upaya menjemput bola. KarenaBimbingan dan Konseling tidak mempunyai kurikulum khusus maka materi yang dibuat berdasarkan berbagai sumber baik itu berupa literatur, browsing di internet, mediaelektronika maupun peristiwa hidup sehari-hari. Selain dapat memberi informasi, layanan ini juga mpermudah observasi terhadap anak dalam berperilaku di kelas, juga menggali berbagai data yang diperlukan untuk menyempurnakan pelayanan, sehingga jam masuk kelas setiap minggunya sangat mendukung tugas konselor.

Bentuk tugas yang sifatnya administrasi juga tidak kalah seru dari mulai membuat program kerja, mengumpulkan data, menghimpun data, mengadakan konfrensi kasusdengan pihak-pihak yang terkait, dan jika diperlukan mengadakan kunjungan rumah serta alih tangan kasus pada ahli yang lebih perkompeten. Namun paradigma yang berkembang saat ini terhadap peran petugas Bimbingan Konseling yang disebut Konselor sekolah masih dianggap sebagai momok oleh kebanyakan siswa, karena citra dan peran Konselor sekolah itu sendiri menampakkan sebutan tersebut. Konselor hanya berperan sebagai pemberi sangsi, menunggu bola dengan duduk  manis menanti siswa yang ingin mendapatkan layanan konseling dan baru mengambil tindakan ketika masalah muncul.
 
Sebaiknya konselor sekolah tidak menjadi bagian dari ketertiban sekolah. Jangansampai muncul sebutan Konselor sebagai polisi sekolah. Sebutan tersebut juga terkaitdengan keterlibatan Konselor dalam bidang ketertiban, hal itu terjadi karena pelanggaranyang dilakukan siswa akan mendapat sangsi yang mungkin sifatnya fisik, sementarakonselor menangani masalah yang sifatnya psikis. Kesulitan untuk membedakan peran iniyang mempertegas sebutan tersebut. Kalaupun Konselor harus bertindak secara tegas untuk menangani pelanggaran yang dilakukan siswa maka hendaknya menggunakan pendekatanyang membuat siswa tetap merasa diakui sebagai pribadi yang berharga, dengan demikiansiswa akan dengan rela menjalani resiko dari pelanggaran yang dibuat tanpa merasaterpaksa. Di samping itu masih ada institusi pendidikan yang mengangkat Konselor darilatarbelakang non psikologi sehingga tidak menutup kemungkinan tugas Konselor menjadikabur. Pelayanan dan tugas dalam Bimbingan dan Konseling membutuhkan tenaga yang ekstra karena jenis tugas yang diemban bersifat psikis. Pola pendekatan yang tepat sangat mendukung pelaksanaan tugas-tugas tersebut.
 
Sebaiknya konselor sekolah tidak menjadi bagian dari ketertiban sekolah. Jangansampai muncul sebutan Konselor sebagai polisi sekolah. Sebutan tersebut juga terkaitdengan keterlibatan Konselor dalam bidang ketertiban, hal itu terjadi karena pelanggaranyang dilakukan siswa akan mendapat sangsi yang mungkin sifatnya fisik, sementarakonselor menangani masalah yang sifatnya psikis. Kesulitan untuk membedakan peran iniyang mempertegas sebutan tersebut. Kalaupun Konselor harus bertindak secara tegas untuk menangani pelanggaran yang dilakukan siswa maka hendaknya menggunakan pendekatanyang membuat siswa tetap merasa diakui sebagai pribadi yang berharga, dengan demikiansiswa akan dengan rela menjalani resiko dari pelanggaran yang dibuat tanpa merasaterpaksa. Di samping itu masih ada institusi pendidikan yang mengangkat Konselor darilatarbelakang non psikologi sehingga tidak menutup kemungkinan tugas Konselor menjadikabur. Pelayanan dan tugas dalam Bimbingan dan Konseling membutuhkan tenaga yangekstra karena jenis tugas yang diemban bersifat psikis. Pola pendekatan yang tepat sangatmendukung pelaksanaan tugas-tugas tersebut.Di sekolah menengah peran yang diberikan adalah sebagai Guru, Orang tua danTeman. Peran tersebut harus diberikan pada waktu yang sesuai misalnya ketika konseling (siswa yang mendapat layanan konseling ) susah untuk digali permasalahannya makakonselor harus datang sebagai seorang teman/sahabat. Hal itu perlu karena sesuai dengantugas perkembangan siswa yang mendapat layanan konseling di sekolah menengah telahmemasuki masa remaja. Memang peran ini oleh sebagian rekan guru dianggap sebagai bentuk menjatuhkan wibawa karena siswa menjadi akrab dan norma-norma kesantunansedikit bergeser padahal jika situasi itu terjadi peran sebagai Guru dimunculkan untuk mempertegas garis hubungan. Peran sebagai orang tua diperlukan saat konseling mampumengungkapkan masalah, didengar, dibantu dan diteguhkan. Oleh karena itu peran sebagai

Tidak ada komentar:

Posting Komentar